Optimalisasi penggunaan lahan perlu dilakukan melalui rekayasa sistem tanam pada suatu hamparan lahan yang umumnya masih menerapkan sistem tanam secara monokultur, baik di lahan sawah maupun pada lahan kering yang disesuaikan dengan kondisi tertentu dengan mengoptimalkan sumberdaya lahan dan air agar produktivitas lahan meningkat.Tumpangsari tanaman jagung dan kedelai (Turiman JALE) adalah sebuah strategi yang perlu dipertimbangkan agar tanaman tersebut tetap berproduksi baik pada satu hamparan.Keuntungan Sistem Tumpangsari Sistem tanam tumpangsari dilakukan untuk memperoleh peningkatan total produksi dan mengurangi resiko kegagalan panen atau kerugian salah satu tanaman serta mengurangi biaya produksi, meningkatkan produktivitas lahan, efesiensi tenaga dan waktu, hemat pemakaian sarana produksi, hemat lahan dan meningkatkan pendapatan usahatani. Hal yang harus diperhatikan dalam budidaya tumpangsari tanaman jagung dan kedelai, sebaiknya tanaman kedelai memperoleh perhatian khusus daripada jagung karena fisiknya lebih pendek sehingga lebih mengalami keterbatasan ruang hidup. Selain itu hal-hal harus diperhatikan antara lain : pengaturan jarak tanam, jumlah baris tanaman kedelai dalam jarak tanam jagung, waktu tanam antara kedelai dan jagung serta jenis varietas kedelai.Pengolahan LahanUntuk lahan sawah pengolahan tanah dengan olah tanah minimum (OTM) dan tanpa olah tanah (TOT). Olah tanah minimum yaitu setelah panen padi sawah, lahan cukup dibersihkan dari tunggul jerami dan rumput dengan menggunakan herbisida pra tumbuh dan dibuat alur bajak untuk tanam. Saluran drainase keliling lahan perlu dibuat. Untuk tanpa olah tanah, setelah panen padi sawah, lahan cukup dibersihkan dari tunggul jerami dan rumput dengan menggunakan herbisida pra tumbuh. Saluran drainase keliling lahan perlu dibuat. Pengolahan tanah di lahan kering dilakukan sebelum turun hujan dengan cangkul atau garpu, sedang pada daerah dengan kondisi tanah ringan, pengolahan tanah cukup dengan pembajakan 1 kali dan diratakan dengan garpu satu kali.Varietas Jagung dan KedelaiJagung dapat menggunakan varietas Nasional (Lamuru, Sukmaraga, Bima 2) atau Multi Nasional Company (Bisi, Pionir, DK). Kedelai dapat menggunakan varietas Anjasmoro, Kaba, Grobogan, Dena, Dering, dan Devon.Penanaman dan Jarak TanamUntuk lahan sawah, kedelai dan jagung ditanam dengan tugal. Untuk lahan kering, setelah terjadi hujan 3 kali dengan kondisi kapasitas lapang, dilakukan penanaman benih kedelai dengan tugal. Jarak tanam kedelai 20 cm antar barisan x 15 cm dalam barisan, seminggu kemudian tanam jagung dengan jarak 40 cm antar barisan x 12,5 cm dalam barisan. Kebutuhan benih kedelai sebanyak 50 kg/ha dengan 2 biji per lubang, dan kebutuhan benih jagung sebanyak 25 kg/ha dengan 1 biji per lubang.• Untuk lahan yang belum pernah ditanami kedelai, sebelum tanam benih kedelai dimasukkan dalam ember berisi air yang telah dicampur inokulan rhizobium untuk membasahi benih dengan larutan tersebut. Bisa juga menggunakan tanah secukupnya bekas ditanami kacang-kacangan sampai menutupi permukaan tanah yang akan ditanami kedelai.• Gunakan mulsa jerami sebanyak 5 t/ha yang dihamparkan sekitar pertanaman kedelai dan jagung pada saat pertanaman kedelai berumur 10 hst.Jarak tanam terlalu sempit akan menyebabkan terjadinya kompetisi air, unsur hara dan cahaya matahari yang semakin tinggi, sehingga pertumbuhan dan hasil kedelai maupun jagung tidak optimal. Pengaturan jarak tanam juga bertujuan agar tidak terjadi tumpang tindih antara kedelai dengan tanaman lain yang menyebabkan tanaman kedelai ternaungi dan kurang mendapat sinar matahari.Naungan yang terlalu tinggi pada tanaman kedelai menyebabkan tingginya produksi etilen yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Kedelai yang ternaungi oleh tanaman lain dapat diatasi dengan menanam varietas yang toleran naungan. Tiap varietas kedelai mempunyai kemampuan toleransi terhadap naungan berbeda-beda. Tanaman Wilis disinyalir mempunyai tingkat toleransi terhadap naungan lebih tinggi dibandingkan Anjasmoro dan Edamame.Setiap varietas kedelai mempunyai perbedaan respon terhadap kehadiran tanaman jagung dalam sistem tumpang sari. Ketidakmampuan tanaman kedelai merespon kehadiran tanaman jagung akan mengakibatkan produksi kedelai rendah demikian pula sebaliknya. Terdapat varietas kedelai yang harus ditanam lebih awal dari jagung, agar pada masa kritisnya tidak terganggu oleh kompetisi jagung dalam memperoleh unsur hara dalam tanah dan terdapat pula varietas yang tetap berproduksi tinggi meskipun ditanam pada saat yang sama. Wilis terbukti lebih berpotensi dibanding varietas Pangrango, Kipas Putih, dan Slamet untuk ditanam secara tumpangsari dengan jagung dengan waktu tanam bersamaan. PemupukanPemupukan menggunakan rekomendasi untuk jagung, sedangkan tanaman kedelai memperoleh manfaat dari pemupukan jagung.• Pemupukan pada jagung adalah 300 kg Urea/ha + 300 kg Ponska/ha + 1 ton pupuk organik/ha;• Cara pemupukan jagung + kedelai : 1/3 bagian dosis pupuk Urea dan seluruh dosis pupuk Ponska diberikan setelah tanaman tumbuh berumur + 10 hari, kemudian 2/3 bagian dosis pupuk Urea sisanya diberikan setelah tanaman berumur 35 hari.;• Pupuk organik diberikan setelah tanam dengan menutup lubang tanam jagung dan kedelai.PanenPada saat tanaman jagung berumur sekitar 10-15 hari sebelum panen, dilakukan pemangkasan batang diatas tongkol dan daun dibawah tongkol. Tujuannya untuk mempercepat pengeringan tongkol di lapang, mengurangi kanopi yang saling menaungi sehingga sinar matahari lebih optimal diterima kedelai untuk proses fotosintesis. Panen jagung dilakukan bila biji telah mengeras dan membentuk lapisan hitam 50% dan klobot sudah mengering, sedangkan pada kedelai bila polong pada batang utama berwarna coklat dan 95% daun telah menguning.Ruslia AtmajaSumber : Badan Litbang Pertanian