Loading...

Tumpangsari Tanaman Kakao dengan Tanaman Pisang

Tumpangsari  Tanaman Kakao dengan Tanaman Pisang
Tumpangsari adalah suatu bentuk pertanian campuran (poly culture) berupa pelibatan dua atau lebih jenis tanaman pada satu areal lahan tanam dalam waktu yang bersamaan atau agak bersamaan sehingga tumpangsari menjadi salah satu metode memaksimalkan lahan. Penanaman dengan sistem tumpangsari pada tanaman kakao merupakan usaha untuk meningkatkan pendapatan bagi pekebun, terlebih selama tanaman kakao belum menghasilkan. Dengan tumpangsari maka pekebun akan dapat memaksimumkan pendapatan dan meminimumkan resiko. Tanaman kakao juga dapat ditumpangsarikan dengan beberapa jenis tanaman tahunan. Jenis tanaman tahunan yang dapat ditumpangsarikan dengan tanaman kakao harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1) memiliki kanopi tidak terlalu rimbun; 2) daun berukuran kecil atau sempit memanjang agar dapat meneruskan cahaya diffuse dengan baik; 3) bukan inang hama dan penyakit utama kakao; 4) Tidak menimbulkan pengaruh alelopati terhadap kakao, yaitu suatu fenomena alam dimana suatu organisme memproduksi dan mengeluarkan suatu senyawa biomolecule (alelokimia) ke lingkungan dan senyawa tersebut mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan kakao. Pisang (Musa sp.) sering dipilih sebagai penaung tanaman kakao muda karena fungsi penaungnya yang baik dan sangat mudah ditanam serta memberikan pendapatan yang tinggi. Tanaman pisang akan memberikan penaungan setelah berumur 6-9 bulan. Setelah berumur satu tahun, tanaman pisang mulai berbuah dan dapat memberikan hasil 1.000 tandan per hektar selama satu tahun, sementara tanaman kakao baru berproduksi setelah berumur empat tahun. Dengan demikian maka pekebun sudah dapat menikmati hasil usahanya dari tanaman pisang. Dari aspek populasi, pisang tidak menampakkan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan kakao muda. Justru dari aspek pendapatan, semakin tinggi populasi pisang maka semakin besar pendapatannya. Dengan pertimbangan teknis dan ekonomis, jarak tanam pisang yang optimum adalah 3x 6 m, untuk kakao dengan jarak tanam 3 x 3 m. Dalam tumpangsari antara tanaman kakao dengan tanaman pisang perlu dilakukan pemeliharaan terhadap tanaman pisang. Karena tanaman pisang mudah sekali berkembang biak, maka pemeliharaan yang penting yaitu pembatasan jumlah anakan. Agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman kakao, maka setiap rumpun cukup dipelihara 3 batang pisang saja, dan yang lainnya ditebang. Disamping pembatasan jumlah anakan, perlu dilakukan pembersihan rumpun pisang. Keuntungan sistem tumpangsariDengan sistem penanaman tumpangsari, pekebun akan dapat memperoleh keuntungan, diantaranya adalah: 1) pekebun akan memperoleh penghasilan dari tanaman semusim sebelum tanaman kakao berproduksi; 2) pekebun akan memperoleh pendapatan tambahan dari tanaman tahunan yang ditumpangsarikan; 3) pekebun akan dapat memanfaatkan limbah tanaman semusim sebagai pakan ternak, pupuk hijau dan mulsa kakao; 4) Dari hasil penebangan batang pisang, dapat dimanfaatkan sebagai mulsa yang efektif dalam mengkonversi kelembaban untuk tanaman kakao, dan bermanfaat sebagai pupuk bagi tanaman kakao yaitu mengandung unsur hara antara lain K, Ca, N, SO4, dan P; 5) Tanaman pisang dapat berfungsi sebagai tanaman penaung bagi tanaman kakao. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian).Sumber: 1. Pedoman Teknis Budidaya Kakao yang Baik. Direktorat Jenderal Perkebunan. Kementerian Pertanian. Jakarta. 2014.2. https://Indonesia bertanam.com