Loading...

Tumpangsari Tanaman Karet dengan Lada

Tumpangsari Tanaman Karet dengan Lada
Tanaman karet baru dapat berproduksi setelah tanaman siap dilakukan penyadapan, yaitu suatu tindakan pembukaan pembuluh lateks agar lateks yang terdapat pada tanaman karet keluar. Tanaman karet mulai dapat disadap kira-kira pada umur 5 tahun, sehingga sebelum lima tahun petani belum dapat menikmati hasil dari perkebunan karetnya. Untuk itu sambil menunggu tanaman karet tersebut berproduksi, perlu diupayakan agar petani sudah dapat mengambil manfaat usahataninya, salah satunya dengan sistem pertanian tumpang sari. Tumpang sari adalah suatu bentuk pertanian campuran (poly culture) berupa pelibatan dua atau lebih jenis tanaman pada satu areal lahan tanam dalam waktu yang bersamaan atau agak bersamaan sehingga tumpangsari menjadi salah satu metode memaksimalkan lahan. Dengan pola tumpangsari pada tanaman karet, petani dapat memperoleh penghasilan dari tanaman sela sebelum karet berproduksi dan memperoleh tambahan penghasilan setelah tanaman berproduksi. Banyak komoditas yang dapat ditanam secara tumpangsari dengan karet, diantaranya adalah tanaman lada. Dari penelitian yang dilakukan, tanaman lada merupakan salah satu jenis tanaman perkebunan yang sesuai bila ditanam secara tumpangsari dengan karet. Kelebihan dari tumpangsari antara karet dengan lada adalah pola ini dapat dipertahankan dalam waktu yang lama, yaitu sama dengan umur produktif karet (30 tahun). Pengaturan jarak tanam Dalam sistem tumpangsari antara karet dengan lada, tanaman karet ditanam dengan jarak tanam 4x6 m atau 3x6 m sehingga masih adanya celah yang "cukup" untuk menyisipkan tanaman lada. Tanaman lada menggunakan benih yang toleran terhadap naungan, biasanya yang berdaun lebar, misalnya jenis lada petaling 2 atau NDL. Perlu dilakukan pemotongan terhadap cabang karet secara berkala supaya tanaman lada tidak tertimpa dahan karet yang berjatuhan. Pemilihan tiang panjatAgar dapat berproduksi dengan baik, tanaman lada memerlukan tiang panjat untuk mendapatkan sinar matahari untuk kebutuhan fotosintesisnya. Tiang panjat untuk tanaman lada dapat digunakan tiang panjat hidup maupun tiang panjat mati. Untuk pola tumpangsari dengan tanama karet, tiang panjat yang digunakan sebaiknya tiang panjat hidup yang memiliki pengaruh kompetisi yang sedikit, misalnya tanaman dadap cangkring.Tumpangsari karet dengan lada menggunakan tiang panjat hidup dengan tinggi 10-15 m dapat dipertahankan sampai umur produktif karet (30 tahun). Dengan demikian tanaman lada juga dapat merambat setinggi pohon panjatnya mencari sinar matahari sesuai kebutuhan fotosintesisnya. Kondisi tersebut mengakibatkan lada dapat bertahan lama sebagai tanaman sela karet. Peningkatan pendapatan petaniPada pola tumpangsari karet dan lada, produksi lada menjadi lebih rendah sebesar 25 % bila dibandingkan dengan produksi pada tanaman monokultur. Meskipun demikian, produksi lada sebagai tanaman sela dapat mencapai 5000 – 5500 kg/ha/tahun pada saat tanaman karet berumur 20 dan 21 tahun. Lada dapat dipanen satu bulan sekali dan tiap pohon sudah bisa menghasilkan sekitar 1-2 ons. Sedangkan penurunan produksi karet sebagai akibat adanya tanaman lada rata-rata hanya 3.5%. Hal ini berarti teknik tumpangsari karet dengan lada menyebabkan pendapatan petani akan lebih besar karena penurunan pendapatan yang disebabkan turunnya produksi karet sangat kecil bila dibandingkan dengan meningkatan pendapatan petani dari produksi lada. Dengan demikian, tumpangsari karet dengan lada merupakan terobosan yang sangat tepat untuk meningkatkan kesejahteraan petani karet. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan, BPPSDMP). Sumber: 1. Pedoman Budidaya Karet (Hevea brasiliensis) yang Baik. Direktorat Jenderal Perkebunan. Kementerian Pertanian. 2014.2. Lada sebagai Tanaman Sela Karet. Prosiding Lokakarya Nasional Budidaya Tanaman Karet. 2006.3. Nuansa.web.id