PENDAHULUAN Melati merupakan salah satu komoditas bernilai ekonomi tinggi, kegunaannya tidak hanya sebagai tanaman hias pot dan taman, tetapi juga sebagai pengharum teh, bahan baku industri parfum, kosmetik, obat tradisional, bunga tabur pusara, penghias ruangan, dekorasi pelaminan, dan pelengkap dalam upacara adat (Suyanti et al, 2003). Terdapat 200 jenis melati yang telah diidentifikasi oleh para ahli botoni dan baru sekitar 9 jenis melati yang umum dibudidayakan yaitu melati hutan (J. multiflorum), melati raja (J. rex), melati cablanca (J. officinale), J. revotulum, J. mensy, J. parkery, melati autralia (J. simplicifolium), melati hibrida dan melati (J. sambac) (Rukmana, 1997). Bunga melati berbentuk terompet dengan warna bervariasi tergantung pada jenis dan spesiesnya. Umumnya bunga melati tumbuh di ujung tanaman. Susunan mahkota bunga tunggal atau ganda (bertumpuk), beraroma harum tetapi ada beberapa jenis melati tidak ada beberapa jenis melati tidak memiliki aroma. (Hieronymus, 2013). Tegal adalah salah satu kabupaten yang terletak di bagian barat laut provinsi Jawa Tengah, Indonesia yang memiliki luas 876,10 km2. Kabupaten Tegal secara geografis terletak pada koordinat 108o576-109o2130 BT dan 6o5041 - 7o1530 LS. Panjang garis pantai 30 km dan panjang perbatasan darat dengan daerah lain adalah 27 Km. Wilayah Kabupaten Tegal terdiri dari daratan seluas 878,7 KM2 dan lautan seluas 121,50 km2. Mempunyai letak yang strategis pada jalan Semarang - Tegal - Cirebon serta Semarang - Tegal - Purwokerto dan Cilacap, dengan fasilitas pelabuhan di Kota Tegal. Kabupaten Tegal yang memiliki agroekologi unik di sepanjang Pantai Utara hingga di berbatasan dengan Kabupaten Pemalang, terdapat rangkaian perbukitan terjal dan sungai besar yang mengalir, yaitu Kaligung dan Kali Erang, keduanya bermata air di hulu Gunung Slamet, sangat potensial untuk pengembangan melati. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal, produksi melati tahun 2017-2018 mengalami penurunan sebesar 17% sedangkan pada tahun 2018-2019 mengalami peningkatan dengan rerata peningkatan sebesar 56%. Selain itu, produktivitas pertanaman melati juga mengalami kenaikan sebesar 36-57% setiap tahunnya. Lebih lanjut dilaporkan, dari luas total tanaman melati sebesar 2.088.440 m2. Usia pertanaman melati dibawah 1 tahun didapatkan data luas tanam sebesar 87.000 m2 atau 4,16%. Kemudian luas tanam pertanaman melati meningkat pada usia 1–4 tahun yaitu sebesar 872.700 m2 atau 41,79%, dan terus meningkat pada usia lebih dari 4 tahun dengan luas sebesar 1.128.740 m2 atau 54,05%. Hal ini membuat Kabupaten Tegal sebagai salah satu sentra melati terbesar di Indonesia dan menjadi tempat pusat ekspor melati ke luar negeri. Outlook Berdasarkan data dari Badan Karantina Pertanian, nilai ekspor bunga Melati dari Jawa Tengah selama bulan Agustus 2018 sampai Januari 2019 mencapai Rp 200,55 miliar. Bahkan, komoditas bunga ini diekspor ke beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Arab Saudi (http://buttmkp.karantina.pertanian.go.id/?p=799, 2019). Sementara itu, berdasarkan data laporan dari UPT Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang - WILKER : Wilker Pelabuhan Laut Tegal, pada tahun 2020 Kabupaten Tegal juga telah melakukan ekport bunga melati segar sebanyak 1.500.490 kg dengan nilai eksport mencapai Rp 102,73 milyar. Hal ini menunjukkan, meskipun dalam masa pandemi Covid-19, ekspor melati Kabupaten Tegal masih bagus. Keragaan daerah sentra melati di Kabupaten Tegal terdapat di empat kecamatan dan 13 desa yaitu Kecamatan Kramat, Kecamatan Suradadi, Kecamatan Warurejo dan Kecamatan Lebaksiu, berada di 13 desa yaitu Desa Kramat, Maribaya, Plumbungan, Padaharja, Dampyak, Bongkok, Munjungangung, Jatibogor, Sidaharja, Purwahamba, Demangharjo, Kedungkelor, Lebakgoah. Jumlah kelompok tani yang ada di Kabupaten Tegal berjumlah 16 kelompok dan petani berjumlah 975 orang. Luas areal melati di Kabupaten Tegal menurut Dinas Pertanian setempat adalah sebesar 2.088.440 m2, dengan populasi per 100 m2 adalah 500–600 tanaman. Rerata produksi per hari sebesar 0,46 kg/100 m2 dan rerata produksi per bulan adalah sebesar 288.450 kg. Issues & Problems Masalah dalam pengembangan melati di Kabupaten Tegal di antaranya adalah rendahnya produktivitas melati yang diusahakan. Rerata provitas melati selama tiga tahun 2017-2019 baru mencapai 1,16 kg/m2. Selain itu, kualitas dan kontinuitas suplai produk melati masih rendah. Masalah lainnya adalah kondisi tanaman yang tidak terawat dengan baik sehingga kurang produktif. Degradasi dan alih fungsi lahan juga menjadi masalah tersendiri, karena menyebabkan berkurangnya luas pertanaman melati. Selain itu, permasalahan pengembangan melati di Kabupaten Tegal dikarenakan wilayah pantai utara sering mengalami bencana rob, hal inilah yang menjadi salah satu penyebab menurunnya luas tanam bunga melati karena rusaknya lahan tanaman melati. Selain itu, meningkatnya kadar garam yang ada di dalam tanah membuat lahan sukar ditanami bunga melati. Kendala lain yang muncul adalah permasalahan irigasi, apabila pada musim kemarau tanaman bunga melati tidak dapat memproduksi bunga melati karena kurangnya ketersediaan air, fluktuasi harga jual dan besarnya peran tengkulak terhadap petani. Permasalahan tersebut yang membuat petani tidak ingin mengelola lahannya dan beralih ke pekerjaan lain seperti buruh atau nelayan, beberapa petani memilih menanam komoditas lain, menjual atau menyewakan lahannya. Analisis SWOT komoditas melati 1. Melati merupakan komoditas hortikultura unggulan Kabupaten Tegal, selain bawang merah 2. Luas lahan tanaman melati cukup luas wilayah dengan keadaan geografis, topografi, iklim yang sangat mendukung Weakness: 1. Pasar lokal belum begitu menjanjikan 2. Perlakuan teknis budidaya kurang intensif (masih diusahakan secara tradisional) 3. Harga melati ditingkat petani masih relatif rendah, tergantung pada musim dan tengkulak. Opportunities: 1. Agroindustri melati masih sangat terbuka 2. Dapat dipanen setiap hari 3. Produk diversifikasinya banyak; 4. Sudah mempunyai pasar eksport yang jelas. 5. Kemitraan dengan pihak lain yang sangat kuat 6. Perkembangan informasi dan komunikasi pemasaran Threats: 1. Keadaan musim sangat menentukan harga melati 2. Alih fungsi lahan ke non pertanian 3. Lahan utama di sentra tanaman melati sudah jenuh karena sering terkena bencana rob. Perlu dilakukan upaya pengembangan produk dibutuhkan kerjasama yang baik antara SDM yang trampil, kualitas bunga yang diakui, dan teknologi yang canggih dan efisien. Dengan keanekaragaman produk yang ditawarkan pengusaha, diharapkan penjualan dapat meningkat dan mampu bersaing di pasaran. Hal lain yang perlu dilakukan adalah meningkatkan mutu yang ada menjadi semakin lebih baik dan berusaha meyakinkan konsumen bahwa harga mempengaruhi kualitas produk. Menjaga kepercayaan pelanggan juga menjadi hal terpenting karena menunjukkan sebuah loyalitas konsumen. Konsumen yang loyal akan datang kembali membeli produk tanaman bunga dan cenderung sulit beralih pada produk pesaing, sehingga kepercayaan pelanggan SOLUSI DAN STRATEGI Penyelesaian masalah dan strategi yang dapat dilakukan disajikan dengan ansoff matrix. Ansoff membagi matriks ke dalam empat strategi berdasarkan kombinasi antara produk baru, produk yang ada saat ini, pasar baru, dan pasar yang ada saat ini. Empat strategi tersebut adalah penetrasi pasar, pengembangan pasar, Penegembangan produk, dan Diversifikasi. Strategi penetrasi pasar dianggap paling tidak berisiko dibandingkan dengan tiga pilihan lainnya. Perusahaan eksportir telah memiliki pengalaman historis, sehingga seharusnya mengetahui risiko, peluang dan area perbaikan dari pendekatan sebelumnya, sedangkan Strategi diversifikasi adalah yang paling agresif dan paling berisiko dibandingkan ketiga strategi lainnya. Sementara itu, untuk menemukan pasar potensial baru, perusahaan eksportir harus melakukan riset pasar yang sistematis. Kemudian, mereka menargetkan secara individual segmen pasar yang telah secara jelas teridentifikasi. Pasar baru mungkin membutuhkan perusahaan untuk mengembangkan saluran pemasaran dan distribusi yang baru untuk masing-masing pasar. Kendala dalam mengupayakan Pengembangan Melati di Kabupaten Tegal Kendala Internal Kendala internal yang muncul di antaranya adalah keterbatasan modal petani, meskipun banyak akses kredit yang ditawarkan kepada petani, namun rumitnya persyaratan yang harus dipenuhi menyebabkan petani enggan untuk mengakses fasilitas kredit tersebut. Kendala lain yang dihadapi adalah tenaga kerja. Tenaga kerja untuk pemeliharaan tanaman, selain mahal juga langka. Buruh tani yang ada kebanyakan berusia lanjut, sedangkan tenaga kerja yang masih muda lebih cenderung memilih untuk bekerja di luar sektor pertanian. Kendala lain yang dihadapi adalah belum tersedianya peralatan pasca panen yang memadai yang dapat digunakan untuk menjaga kualitas bunga melati. Hal lain yang menjadi kendala adalah tanaman yang ada saat ini didominasi tanaman tua (> 4 tahun) yang belum diremajakan, sementara itu, di Kabupaten Tegal belum ada penangkar bibit melati. Kendala Eksternal Salah satu kendala eksternal yang dihadapi saat ini adalah belum adanya kebijakan khusus untuk pengembangan melati di daerah sentra. Dukungan dimaksud adalah sokongan pembiayaan. Selain itu, belum ada kerjasama yang sinergis stakeholder (Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja, dan Dinas Perdagangan, Pasar, dan Koperasi dan pihak terkait lainnya). KESIMPULAN Melati merupakan komoditas florikultura di Kabupaten Tegal yang layak diunggulkan dalam mendukung Gratieks. Setiap tahun produktivitas melati cenderung naik 36-37% dengan rerta produksi 2.766.701 kg. Namun, masih ditemuai kendala seperti sering terjadinya bencana rob, penurunan produkstivitas lahan, kondisi tanaman perlu diremajakan, sehingga dengan menekan atau mengatasi permasalahan diharapkan produksi melati dapat meningkat lagi. Bagi pengusaha perlu menerapkan staretgi S-O (Strength-Opportunity), yaitu dengan melakukan penetrasi pasar agar volume eksport dapat ditingkatkan. Daftar Pustaka BUTTMKP. 2019. BUTTMKP Siap Dukung Akselerasi Ekspor Melati Segar Tegal. (online) http://buttmkp.karantina.pertanian.go.id/?p=799. Diakses tanggal 28 April 2021. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal. 2019. Programa Penyuluhan Pertanian Tahun 2019. Hieronymus Budi. 2013. Tumpas Penyakit 40 Daun 10 Akar Rimpang. Yogyakarta: Cahaya, Jiwa. Rukmana. R.1997. Usaha Tani Melati. Yogyakarta: Kanisius. Suyanti, Sulusi Prabawati, dan Sjaifullah. 2003. Sifat Fisik dan Komponen Kimia Bunga Melati Jasminum officinale. Buletin Plasma Nutfah; 9 (2)2 Pp. 19-22. Penulis: Rokhlani, S.P., M.P. Penyuluh Pertanian Madya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Tegal