Baru-baru ini, petani jagung di Kecamatan Rangkasbitung diresahkan dengan ditemukannya serangan hama baru pada pertanaman jagung seperti ditemukan pada Selasa (21/01/2020) Tanaman jagung umur 36 hari terserang ulat grayak di kelompok tani Mandiri Desa Citeras Kecamatan Rangkasbitung.Hama baru tersebut, dikenal dengan sebutan ulat grayak (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) atau Fall Armyworm. Ulat grayak merupakan serangga ngengat asli daerah tropis yang sebelumnya hanya ditemukan pada pertanaman jagung di Amerika Serikat, Argentina, dan Afrika.berdasarkan beberapa referensi, penyebaran ulat grayak mulai ditemukan pada awal tahun 2019. Hama jagung ini ditemukan pertama kali menyerang pertanaman padi di Indonesia, yaitu di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat dan Lampung. Menyebarnya hama jagung ini sampai ke Indonesia dan mampu cepat beradaptasi dengan baik. Bahkan langsung merusak pertanaman jagung. Ini karena diduga hama ulat grayak memiliki karakter biologi yang unik. Selain itu, mudahnya penyebaran hama ini karena didukung oleh tingginya volume pertukaran barang dagang antar negara. Tingkat kerusakan akibat serangan hama jagung ini tergolong berat karena menyebabkan kerugian ekonomi pada komoditas jagung. Untuk itu, guna membantu petani di lapangan, diperlukan informasi dasar mengenai serangan hama ini serta langkah-langkah yang dilakukan secara efektif dan efisien, serta aman terhadap lingkungan.Berdasarkan nama hama ini, yakni ulat grayak, diketahui bahwa fase yang paling merusak dari hama jagung ini yaitu fase larva atau ulat. Hama ulat grayak merusak pertanaman jagung dengan cara menggerek daun tanaman jagung. Bahkan, pada kerusakan berat, kumpulan larva hama ini seringkali menyebabkan daun tanaman hanya tersisa tulang daun dan batang tanaman jagung saja. Apabila kumpulan larva hama jagung ini mencapai kepadatan rata-rata populasi 0.2 – 0.8 larva per tanaman. Akibatnya, itu menjadikan pengurangan hasil produksi sebanyak 5 – 20%. Tanaman jagung yang diserang oleh hama jagung ulat grayak kerusakannya ditandai dengan: 1. Adanya bekas gesekan dari larva atau ulat. Pada permukaan atas daun atau disekitar pucuk tanaman jagung, 2.ditemukan serbuk kasar seperti serbuk gergaji. Ulat grayak ini merusak bagian pucuk, daun muda, maka tanaman jagung dipastikan akan mati. 3.Ketika populasi ulat grayak ini sangat tinggi, maka bagian tongkol jagung juga akan diserang oleh hama ini. Cara Pencegahan dan Pengendalian Ulat Grayak A,Tindakan PencegahanPengunaan benih dan varietas yang memiliki daya kecambah yang baik dan bebas dari penyakit. Lakukan waktu penanaman yang tepat waktu dan hindari waktu penanaman yang tidak seragam pada satu lahan. Itu untuk menghindari ketersediaan tanaman ianang hama ini ini secara terus menerus.Kondisi tanah yang baik dengan penggunaan pupuk anorganik secara seimbang untuk mengurangi intesitas serangan hama ulat grayak ini.Lakukan sistem tumpang sari tanaman jagung dengan tanaman lain yang tidak disukasi oleh hama ini.Lakukan pengamatan setidaknya seminggu sekali untuk mengamati, mempelajari, dan mengambil keputusan yang tepat jika ditemukan gejala serangan hama ini. B.Tindakan PengendalianSecara mekanis, dapat dilakukan adalah dengan cara mencari dan membunuh larva dan telur hama ini secara mekanis, yakni dengan dihancurkan dengan tangan.Secara biologis, dengan penggunaan musuh alami yang berperan sebagai agen pengendali hayati untuk mengurangi populasi hama ulat grayak. Beberapa contoh musuh alami dari hama ini yaitu jenis parasitoid Trichogramma spp. dan jenis predator cecopet, kumbang kepik, dan semut. Dua resep pembuatan pestisida botani juga layak dicoba, Berikut resepnya: 1. Ekstrak cabai + bawang putih + bawang merah. Bahan-bahan: Bubuk cabai 1 sendok teh Bawang putih 1 siung Bawang merah 1 butir Air 1 liter Deterjen 1 sendok teh. Cara pembuatan : Bawang putih dan bawang merah dihancurkan Campur bubuk cabai dan air, aduk hingga rata rendam 1 jam lalu saring, tambah deterjen aduk rata. Aplikasi : Semprotkan sore hari. 2. Ekstrak kipait + laos + serai wangi. Bahan-bahan : 8 kg kipait 6 kg laos 6 kg serai wangi 20 Liter air Cara pembuatan : semua bahan dicincang ditumbuk dicampur lalu disaring. Aplikasi : 20 Liter ekstrak yang sudah jadi ditambah air 580 Liter lalu disemprotkan untuk lahan 1 hektar. Untuk pestisida hayati bisa dilakukan dengan penyemprotan NPV / antigra, dan agen hayati metarizium. Bisa juga disemprot dengn air gula pada pupus daun, tujuannya untuk memancing semut agar memakan hama ulat. Jika ulatnya banyak dan Petani/Kelompok Tani sudah tidak sabar lagi serta kuatir terhadap pertanaman Jagung akan rusak, lakukan dengan alternatif terakhir yaitu Kendalikan dengan Pestisida dengan Bahan Aktif, sbb :1. Emmamectin benzoat2. Lamda sihalotrin. 3. DeltrametrinTanya pada Pemilik Kios Pestisida yaa? Pasti adaPerhatikan saat aplikasi pengendalian/penyemprotan :1. Sebaiknya dilakukan pada sore hari antara jam 5-7 Malam (karena pada jam jam tersebut ulatnya pada keluar)2. Dosisnya harus pas sesuai rekomendasi3. Nozelnya diarahkan langsung ketitik tumbuh tanaman Jagung4. Perhatikan arah angin (jangan sampai melawan arah angin)5. Jangan lupa pakai Masker dan Sarung Tangan6. Tidak boleh makan/minum/merokok saat pengendalian 7. Bersihkan diri setelah aplikasi pengendalian (DEI)