UPAYA PENANGGULANGAN TINGGINYA MORTALITAS PADA BUDIDAYA AYAM KUB DI BALAI PENYULUHAN PERTANIAN (BPP) MAULAFA KOTA KUPANG Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) merupakan jenis ayam kampung yang berasal dari persilangan antar sesama ayam kampung yang merupakan hasil riset Badan Litbang Pertanian Bogor yang dilakukan selama 6 generasi. Dari hasil penelitian tersebut lahirlah jenis ayam KUB yang saat ini banyak didjadikan sebagai ayam penghasil daging dan ayam penghasil telur. Ayam KUB memiliki keunggulan yaitu mampu bertelur lebih banyak mencapai 160 – 180 butir/ekor/tahun, memiliki bobot badan umur 20 minggu (± 5 bln) berkisar 1,2 kr – 1,6 kg dengan umur bertelur awal sekitar umur 20 – 22 minggu (5 – 5,5,bulan). Akhir-akhir ini ayam KUB telah banyak dicari dan diminati oleh masyarata petani peternak di NTT, khususnya di Kota Kupang untuk dibudidayakan. BPTP NTT sebagai salah satu unit Pelaksana Badan Litbang Pertanian juga telah melaksanakan pengembangan ayam KUB tersebut sejak tahun 2015 dan penyebarannya telah dilakukan di banyak kelompok-kelompok tani khususnya di daratan Timor. Melalui kerjasama dengan BPTP-Balitbangtan-NTT tersebut maka penyuluh - penyuluh di BPP Maulafa mendapatkan kesempatan untuk melakukan kegiatan pengembangan pemeliharaan ternak ayam KUB tersebut sebanyak 100 ekor di lahan belakang kantor BPP dengan dana pembuatan kandang didapatkan secara swadaya berdasarkan kesepakatan yang dibangun bersama di antara semua penyuluh BPP Maulafa. Dalam pelaksanaan percontohan budidaya ayam KUB, banyak hal yang dapat untuk dijadikan pembelajaran salah satunya adalah terjadinya kematian ternak ayam KUB selama pemeliharaan. Kita sebagai peternak merasa perlu mempelajari bagaimana cara menekan atau mengurangi seminimal mungkin tingkat kematian ternak ayam KUB selama masa pemeliharaan karena kematianmortalitas yang tinggi dapat menyebabkan usaha budidaya ayam KUB kita bisa gagal atau merugi. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA MORTALITAS Mortalitas adalah jumlah kematian yang terjadi dalam sebuah populasi. Kematian adalah peristiwa menghilangnya tanda – tanda kehidupan secara permanen yang bisa terjadi kepada setiap yang hidup. Mortalitas ataupun kematian adalah salah satu aspek yang mampu mempengaruhi keberhasilan usaha peternakan ayam. Mortalitas sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : Suhu ruangan Ayam yang kita pelihara didalam kandang, perlu mendapatkan penanganan tepat agar mempunyai pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Termasuk diantaranya yang berhubungan dengan suhu ruangan. Suhu ruangan yang ideal untuk masing – masing umur ayam berbeda – beda. Pengaturan suhu dalam ruangan kandang diatur berdasarkan fase pertumbuhan ayam (umur ayam). Untuk ayam yang masih kecil mempunyai suhu yang lebih tinggi dibandingkan suhu ruangan sehingga kita perlu meletakkan pemanas buatan atau brooder didalam kandang untuk memberikan kehangatan pada anak ayam. Bila suhu ruangan tidak ditingkatkan sesuai dengan suhu anak ayam maka suhu anak ayam akan berangsur – angsur menurun. Jika tidak segera mendapat penanganan maka anak ayam akan kedinginan dan mudah terserang penyakit. Penyakit yang sering menyerang anak ayam pada saat suhu ruangan dingin adalah penyakit radang paru – paru (pneumonia). Ayam yang terkena radang paru – paru mempunyai pernapasan yang tersengal – sengal. Ayam yang terkena penyakit ini akan berkurang nafsu makannya. Sehingga ayam menjadi cepat kurus dan praktis mempengaruhi pertumbuhan anak ayam. Untuk itu perlu pengaturan suhu ruangan yang tepat didalam kandang. Pengaturan suhu ruangan dalam kandang untuk ayam umur 1 – 7 hari, suhu ideal kandang 35°c; umur 8 – 15 hari, suhu ideal kandang 32,2°c; umur 16 – 23 hari, suhu idel kandang 29,44°c; umur 24 – 30 hari, suhu ideal kandang 26,6°c. Setelah ayam berumur 31 hari, pemanas buatan sudah tidak diperlukan lagi. Meskipun begitu, bila kondisi sekitar kandang sangat dingin maka pemanas buatan bisa dipasang kembali. Begitu pula jika suhu diluar ruang sangat panas, maka suhu didalam ruangan perlu disesuaikan. Jadi penggunaan pemanas buatan hanya digunakan pada malam hari saja. Untuk memastikan suhu, bisa dengan melihat penyebaran anak ayam didalam kandang. Jika anak ayam bergerombol maka hal tersebut menandakan suhu ruangan didalam kandang terlalu rendah. Pada saat ini jumlah pemanas buatan atau brooder perlu ditambah atau suhu dalam ruangan perlu ditingkatkan. Setelah penyebaran ayam cukup merata maka suhu perlu dipertahankan. Kanibalisme Kanibalisme pada ayam adalah kebiasaan ayam yang saling mematuk dan bahkan memakan bangsanya sendiri. Kanibalisme biasanya ditandai dengan adanya luka – luka pada tubuh ayam dan seringkali ditemukan sudah mati dengan lubang dibagian kloaka sampai pada termakan habisnya rongga perut dari ayam. Kanibalisme atau saling patuk – mematuk ini dipengaruhi oleh beberapa hal yakni : kandang yang terlalu padat, tempat makan dan tempat minum yang terlalu kecil atau sempit, suhu dan kelembaban kandang yang terlalu tinggi, usia ayam yang tidak seimbang, kekurangan makanan dan minuman. Salah satu kelemahan dari ayam KUB ini adalah sifat kanibalismenya yang tinggi. UPAYA-UPAYA PENANGGULANGAN TERJADINYA MORTALITAS Pengaturan Suhu Ruangan Masa brooding mutlak dibutuhkan oleh anak ayam sebagai pengganti induk ayam. Periodenya dimulai sejak anak ayam (DOC) tiba di kandang sampai anak ayam mencapai umur serta bobot tertentu dan tidak memerlukan pemanas lagi serta anak ayam sudah bisa menyesuaikan sendiri dengan suhu lingkungannya. Untuk diketahui bahwa pertumbuhan anak ayam (DOC) akan terganggu bahkan mati bila brooding tidak berfungsi secara baik. Kegiatan pemeliharaan ayam KUB di BPP Maulafa dimulai sejak tanggal 26 November 2020 yang mana saat itu sudah memasuki musim penghujan. Pada Saat anak ayam (DOC) tiba, anak ayam langsung dimasukan kedalam broodingnya(induk buatan), dimana sudah tersedia juga makanan dan minuman sesuai kebutuhan usia DOC. Broodingnya menggunakan bola lampu listrik 100 watt sebagai pemanas memakai kap lampu agar panas terpusat dalam area brooding. Dalam broding terlihat bahwa pergerakan anak ayam menyebar merata diseluruh bagian sisi brooding sambil makan dan minum sebagai pertanda bahwa suhu kandang sesuai dengan kebutuhan anak ayam, dimana saat itu sudah mulai musim hujan. Akibat hujan yang turun terus menerus mengakibatkan suhu menjadi lebih dingin dibandingkan di musim kemarau. Pertumbuhan dan perkembangan anak ayam dalam brooding sangat sehat dan aktif bergerak kesana kemari dengan lincah. Seiring berjalannya waktu, listrik disekitar wilayah BPP Maulafa sering padam sehingga berpengaruh terhadap fungsi indukan. Saat listrik sering padam itulah yang menyebabkan anak ayam banyak yang mati akibat kedinginan. Untuk mencari kehangatan, anak ayam saling menindih satu dengan yang lainnya sehingga mengakibatkan yang posisi terbawah mengalami tekanan yang berat, susah bernafas sehingga akhirnya mati. Kematian akibat kedinginan mencapai 10 (sepuluh) ekor yaitu saat anak ayam berada dibrooding pada hari ke 3, 5, 8 dan hari ke 10. Untuk menjaga agar tidak terjadi kedinginan saat lampu padam maka dibuatkan alat pemanas sederhana yang terbuat dari seng dan lampu pelita. Lampu pelita ini terbuat dari kaleng bekas dan sumbu kompor serta diberi minyak tanah. Dalam penggunaanya, seng digulung sampai mencapai diameter 25 cm, lalu pelita ditaruh ditengahnya. Walaupun menggunakan lampu pelita, masih ada saja anak ayam yang mati sebab panas yang dihasilkan oleh pemanas buatan kurang maksimal. Pada saat anak ayam berumur 12 hari, listrik sudah tidak padam lagi sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak ayam semakin besar, sehat dan aktif. Hingga pada usia 31 hari, dimana saat itu anak ayam sudah dapat menyesuaikan diri dengan suhu lingkungannya, anak ayam dipindahkan kedalam kandang pembesaran. Dalam kandang pembesaran sudah tersedia tempat makan, tempat minum dan tempat bertengger. Penanggulangan Kanibalisme Setelah memasuki ruang yang lebih luas dari ruang sebelumnya, anak ayam bertumbuh dengan baik, terbang kian kemari, mengais litter sebagai naluri dari seekor ayam, dan mulai saling mematuk satu dengan yang lainnya. Yang dipatuk adalah bulu – bulu yang baru tumbuh disamping maupun bagian ekor ayam. Akibat dari saling mematuk, menimbulkan luka ditubuh anak ayam. Luka ini yang mengundang ayam lain untuk mematuk bagian tubuh yang luka tersebut sampai ayam mati. Kanibalisme atau saling patuk – mematuk ini dipengaruhi oleh beberapa hal yakni : kandang yang terlalu padat, tempat makan dan tempat minum yang terlalu kecil atau sempit, suhu dan kelembaban kandang yang terlalu tinggi, usia ayam yang tidak seimbang, kekurangan makanan dan minuman. Salah satu kelemahan dari ayam KUB ini adalah sifat kanibalismenya yang tinggi. Kematian anak ayam KUB selama pemeliharaan akibat kanibalisme mencapai 7 (tujuh) ekor pada saat berumur ± 6 minggu, dimana pada usia tersebut belum semua bagian tubuh ayam tertutup oleh bulu, sehingga memudahkan ayam – ayam untuk saling melukai. Apabila sudah ada luka maka semua ayam yang ada dalam populasi tersebut akan mematuk bagian tubuh yang terluka. Ayam tidak akan bisa bertahan sebab tidak bisa menghindar jauh karena berada dalam satu kandang yang akhirnya ayam akan mati akibat kehabisan darah dan ayam yang lain akan memakan semua isi rongga perut dari ayam yang sudah mati tersebut. Untuk mengurangi atau menekan tingkat kematian dari suatu populasi khususnya ayam KUB ini maka cara yang dilakukan adalah dengan memberikan potongan batang pisang, daun pepaya yang digantung didalam kandang agar ayam fokus terhadap pakan alternatif tersebut. Namun cara yang dipakai ini kurang efektif karena masih ada ayam yang mati. Selain pemberian potongan batang pisang dan daun pepaya, dilakukan juga pemotongan paruh (debeaking) dari setiap ayam yang ada dalam populasi tersebut untuk menekan mortaliatas akibat saling patuk. Pemotongan paruh adalah cara yang dianggap paling baik untuk mencegah timbulnya kanibalisme. Cara inilah yang digunakan dalam mencegah jatuhnya korban luka maupun mati dari ayam KUB yang dipelihara di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Maulafa, Kecamatan Maulafa Kota Kupang. Proses pemotongan paruh ini dilakukan terhadap setiap ekor ayam yang ada dalam populasi tersebut, dengan alat yang digunakan sangat sederhana dan murah yaitu Jepit kuku ukuran kecil sampai dengan ukuran besar, disesuaikan dengan besarnya paruh dari ayam - ayam tersebut. Pemotongan paruh ini dilakukan pada ayam milik BPP Maulafa adalah sebanyak 2 (dua) kali yakni saat ayam berumur ± 6 minggu (saat terjadi kematian akibat kanibalisme) dan pada umur ± 9 minggu sampai ayam – ayam tersebut tubuhnya benar – benar sudah ditutupi oleh bulu secara sempurna. Dengan adanya pemotongan paruh sebanyak 2 (dua) kali tersebut, angka luka maupun mati dari dari ayam KUB sudah tidak terjadi lagi, sehingga ayam dapat hidup dan berkembang dengan baik sampai ayam dijual pada umur 4 bulan dengan bobot maksimal 1,8 kg dengan harga Rp. 75.000/ekor. Demikian hasil informasi percontohan budidaya ayam KUB yang dilaksanakan pada tanggal 26 Nopember 2020 s/d 26 Maret 2021 di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Maulafa Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Semoga bermanfaat. (Fredrik D. Saudale, kepala BPP Maulafa).