Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE Ponorogo - Terjadinya pemanasan global telah menyebabkan peningkatan intensitas kejadian iklim ekstrim (el-nino dan la-nina) dan ketidakteraturan musim. Selama 30 tahun terakhir terjadi peningkatan suhu global secara cepat dan konsisten sebesar 0,2o C per dekade. Perubahan iklim global masa yang akan datang, diperkirakan akan menyebabkan frekuensi dan intensitas kejadian iklim ekstrim yang meningkat. Dampak fenomena atau perubahan iklim yang ekstrim seperti la-nina dan el-nino, serta keanekaragaman stadia tanaman di ekosistem pertanian khususnya tanaman padi sawah, kerap kali menjadi kendala dalam peningkatan produksi. Pengaruh iklim yang ekstrim tersebut dapat bersifat positif maupun negative. Pengaruh positif dari el-nino misalnya terputusnya siklus hidup hama akibat kekeringan sehingga tanaman relatif sedikit terutama di lahan tadah hujan, dan kesuburan tanahpun meningkat atau relatif lebih baik karena tanah mengalami masa istirahat selama musim kemarau (aerasi tanah meningkat). Meskipun demikian dalam beberapa kasus cenderung terjadi hal yang bersifat negatif khususnya bagi kehidupan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti terjadinya hibernasi (mengalami masa istirahat selama musim dingin) dan aestivasi (mengalami masa istirahat selama musim panas). Misalnya Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens) membentuk biotipe-biotipe baru selain akibat penggunaan varietas, Larva Penggerek Batang Padi Putih (Scirpophaga sp) mengalami masa diaphause sebelum menjadi dewasa. Keadaan tersebut dampak dari kombinasi seleksi alam yang cukup kuat. Organisme penganggu tanaman (OPT) merupakan faktor pembatas produksi baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan. Organisme pengganggu tanaman secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu hama, penyakit dan gulma. Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh dinamika faktor iklim. Pengaruh perubahan iklim yang berdampak buruk terhadap pertanian di Indonesia diantaranya perubahan pola curah hujan yang berdampak pada pergeseran musim dan pola tanam. Serta fluktuasi suhu dan kelembaban udara yang meningkat telah menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan OPT. Sehingga tidak jarang kalau pada musim hujan petani banyak disibukkan oleh masalah penyakit tanaman seperti penyakit kresek dan blas pada padi, sedangkan pada musim kemarau banyak masalah hama seperti penggerek batang padi, hama belalang kembara. Perkembangan hama dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim, diantaranya temperatur, kelembaban udara relatif dan fotoperiodisitas telah berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, lama hidup, serta kemampuan diapause serangga. Berbagai fakta menunjukkan bahwa el-nino dan la-nina dapat menstimulasi perkembangan hama dan penyakit tanaman, seperti penggerek batang dan wereng coklat di Desa Ngrupit dengan gerakan massal yang diikuti 3 poktan, BPK,UPTD,Koordinator POPT. Terjadinya anomali musim, yakni masih adanya hujan di musim kemarau juga dapat menstimulasi serangan OPT. Waktu tanam yang tidak serempak dan kondisi cuaca yang tidak menentu juga dapat menjadi pemicu serangan OPT. Pengaruh lain dari kejadian iklim ekstrim sering kali menstimulasi ledakan (outbreak) beberapa hama dan penyakit utama tanaman padi, seperti tikus, penggerek batang, wereng coklat dan tungro. Kejadian el-nino pada tahun 1997 yang diiringi la-nina tahun 1998 berdampak pada ledakan serangan hama wereng di beberapa provinsi di Indonesia, terutama di Jawa Barat. Suhu udara dan kelembaban yang meningkat menyebabkan OPT mudah berkembang biak. Pada kondisi iklim ekstrim la-nina, peningkatan kelembabam udara sangat signifikan akan menstimulasi ledakan serangan OPT. Dengan kondisi seperti ini akan memberikan pengaruh buruk terhadap produksi dan produktivitas tanaman.? adm.ponorogo/joesoef soegiarto,SP