Loading...

Varietas Padi Rawa tingkatkan produksi perberasan dalam negeri

Varietas Padi Rawa tingkatkan produksi perberasan dalam negeri
Untuk mendukung program Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2019 yang menargetkan program optimasi lahan rawa dan pasang surut seluas 500.000 hektar yang akan dilaksanakan di Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Kalimantan Selatan, maka dukungan benih untuk varietas unggul padi yang cocok digunakan pada lahan rawa sangat dibutuhkan. Diharapkan varietas unggul rawa dengan keunggulan-keunggulan yang dimilikinya dapat untuk meningkatkan produktivitas dan produksi perberasan dalam negeri. Mengingat varietas unggul merupakan salah satu dari beberapa teknologi hasil penelitian yang telah berkontribusi nyata dalam peningkatan produksi, maka rakitan varietas unggul yang sengaja dirakit untuk mampu berproduksi tinggi, tahan hama dan penyakit, berumur genjah, dan memiliki sifat penting lainnya sangat perlu untuk digalakkan dalam rangka meningkatkan produktivitas beras dalam negeri. Lahan rawa memang memiliki karakteristik tanah yang berbeda, maka jenis benih padi sawah rawa pun harus berbeda dengan yang dipakai di sawah irigasi maupun tanah kering. Benih padi di lahan rawa memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungannya seperti tingkat kemasaman tanah (pH), sulfat hingga serangan hama dan penyakit. Padi rawa tersebut dinamakan Inpara atau Inbrida Padi Rawa yang telah banyak dihasilkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Badan Litbang) Pertanian. Varietas Inbrida Padi Rawa (Inpara) pada dasarnya mempunyai ketahanan fisik dari lahan rawa pasang surut. Selain itu, memiliki sifat yang adaptif terhadap cekaman biotik, atau hama penyakit utama, saat ini Badan Litbang sudah memiliki 11 varietas padi Inpara, lima di antaranya sudah banyak ditanam oleh petani yaitu Inpara 2, Inpara 3, Inpara 4, Inpara 8 dan Inpara 9. Inpara 2 memiliki karakteristik umur tanam selama 128 hari, tekstur nasinya pulen, dan rata-rata bisa menghasilkan 5,49 Gabah Kering Giling per hectare (GKG/ha) di rawa lebak, sementara di rawa pasang surut 4,82 ton GKG/ha. Varitas Padi Inpara 2 ini lebih banyak disukai oleh masyarakat Jawa karena memiliki tektur nasi yang pulen. Inpara 3 memiliki umur tanam selama 127 hari dengan tekstur nasi pera dan rata-rata hasil 4,6 ton GKG/ha. Padi varietas Inpara 4 (Inbrida Padi Rawa 4) adalah golongan Cere Indica yang berumur 135 hari, bertipe tanaman tegak, dengan tinggi tanaman sekitar 94 cm. Produksi rata-rata adalah sebesar 4,7 ton GKG/ha dengan potensi hasil hingga 7,63 ton GKG/ha, memiliki tekstur nasi pera yang paling banyak disukai oleh masyarakat diluar Jawa terutama daerah Sumatera dan Kalimantan. Varietas padi Inpara 8 dan 9 masing-masing memiliki karakteristik umur tanam 115 hari dan 114 hari. Inpara 8 bisa menghasilkan rata-rata 4,7 ton GKG/ha dengan potensi hasil 6 ton GKG/ha sedangkan Inpara 9 mampu menghasilkan 4,2 ton GKG/ha dengan potensi hasil 5.6 ton GKG/ha. Benih padi Inpara telah tersedia di 30 provinsi dan bisa dipanen hingga tiga kali panen. Mengingat masing-masing daerah memiliki preferensi sendiri-sendiri maka soal pemilihan jenisnya atau varietasnya dapat disesuaikan. Bagi pelaku usaha yang akan menyasar pasaran dengan preferensi masyarakat yang senang nasinya pulen, maka pelaku usaha dapat memilih varietas Inpara 2 atau Inpara 8. Pada umumnya masyarakat yang suka tekstur nasi pulen itu biasanya di daerah Jawa sedangkan yang suka nasi pera umumnya daerah luar Jawa seperti di daerah Sumatera dan Kalimantan maka pelaku usaha bisa memilih Inpara 3, 4 maupun 9. Keunggulan varietas-varietas padi rawa yang telah diuraikan tersebut diatas sangat cocok ditanam pada daerah rawa lebak dangkal dan sawah rawan banjir. Varietas tersebut tahan terhadap rendaman selama 14 hari pada fase vegetative terutama varietas Inpara 4 dan memiliki prospek pengembangan komersialisasi dan perdagangan tinggi yang sangat menguntungkan bagi industri perbenihan maupun perberasan. Untuk mengawal peningkatan produktivitas dan kualitas hasil tanaman yang sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas benih yang digunakan serta diikuti dengan aplikasi teknologi budidaya lainnya oleh pelaku utama dalam setiap usaha taninya, maka, pengawalan dan pendampingan oleh penyuluh dan petugas perlu terus digalakkan. Siti Nurjanah Penyuluh Pertanian Utama, Pusat Penyuluhan Pertanian. BPPSDMP Kementerian Pertanian. Email : snurjanah8514@yahoo.com Sumber : Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Perbenihan Tanaman Pangan Tahun Anggaran 2019, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian. Petunjuk Pelaksanaan Budidaya Padi Rawa Tahun 2018, Direktorat Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian. litbang.pertanian.go.id Gambar : https://www.google.com