Terjadinya perubahan iklim, telah dirasakan dampaknya pada sektor pertanian, khususnya dalam produksi padi. Perubahan pola curah hujan dan iklim ekstrim sering menyebabkan banjir dan kekeringan. Perubahan ilim juga telah menyebabkan bergesernya awal musim hujan, yang berdampak pada bergesernya musim tanam padi. Jika dahulu para petani mulai turun tanam pada bulan Oktober dan April, maka saat ini sudah tidak dapat dipastikan dapat mulai turun tanam pada bulan tersebut. Menghadapi kondisi tersebut, u para petani harus menyesuaikan cara bertani yang mereka lakukan ntuk meminimalkan potensi kerugian yang dialami. Penggunaan varietas unggul yang sesuai dengan kondisi iklim merupakan salah satu yang dapat dilakukan. Untuk menghadapi musim kering pada daerah sawah tadah hujan atau pada wilayah dengan periode musim hujan yang pendek misalnya, petani dapat menanam padi yang toleran terhadap kekeringan. Saat ini telah tersedia pilihan varietas unggul padi yang toleran pada kekeringan, pada tulisan ini akan diuraikan 10 varietas, yaitu: Inpari 10, Inpari 18, Inpari 19, Inpari 20, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago 8, Inpago 9, dan Inpago 10. Inpari 10Selain toleran kekeringan dan cocok ditanam di lahan irigasi dan tadah hujan, varietas Inpari 10 memiliki keunggulan batang yang kokoh dan tahan rebah, agak tahan hama wereng batang coklat. Inpari 10 memiliki potensi hasil 7ton per hektar. Inpari 18 Varietas Inpari 18 memiliki potensi hasil 9,5 ton per hektar gabah kering giling, tekstur nasi pulen, tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1 dan 2, agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 3. Selain itu, juga tahan terhadap penyakit hama daun bakteri patotipe III, agak tahan hawar daun bakteri patotipe IV dan rentan terhadap hawar daun bakteri patotipe VII. Inpari 19 Varietas Inpari 19, dapat dipanen pada umur 104 hari, dengan potensi hasil 9,5 ton per hektar GKG. Tekstur nasi pulen. Inpari 19 tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1 dan 2, agak tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 3, serta tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe III, agak tahan hawar daun bakteri patotipe IV dan rentan terhadap hawar daun bakteri patotipe VIII. Cocok ditanam di lahan irigasi dan tadah hujan dengan ketinggian 0-600 m dpl. Inpari 20 Inpari 20 berpotensi hasil 8,8 ton/hektar gabah kering giling, tekstur nasi pulen. Varietas ini tahan terhadap wereng batang coklat biotipe 1, dan agak rentan terhadap wereng batang coklat biotipe 2 dan 3. Selain itu, varietas ini juga tahan terhadap hawar daun bakteri patotipe III, agak rentan terhadap hawar daun bakteri patotipe IV dan VIII, rentan terhadap virus tungro, agak tahan terhadap blas ras 033 dan rentan terhadap ras 133,073 &173. Cocok ditanam di ekosistem sawah dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl dan tidak dianjurkakn untuk ditanam di daerah endemik tungro. Inpago 4 Inpago 4 memiliki potensi hasil gabah kering giling 6,1 ton/ha, dengan rata-rata hasil di lahan kering mencapai 4,1 ton/ha. Dapat dipanen pada umur 124 hari. Varietas ini memiliki tekstur nasi pulen. Inpago 4 memiliki ketahanan yang baik terhadap beberapa ras penyakit blas yang merupakan penyakit utama di lahan kering. Selain itu varietas ini juga toleran terhadap keracunan aluminium sehingga cocok ditanam di lahan kering subur maupun di lahan kering masam (podsolik merah kuning). Inpago 5 Varietas ini mampu menghasilkan gabah kering giling sampai 6,2 ton/ha, dengan rata-rata hasil 4,0 ton/ha. Varietas ini dapat dipanen setelah berumur 118 hari. Dengan kadar amilosa dalam beras sebesar 18%, tekstur nasi varietas ini tergolong sangat pulen. Inpago 5 tahan terhadap beberapa ras blas. Varietas ini juga toleran terhadap kekeringan dan agak toleran terhadap keracunan aluminium, sehingga sangat sesuai ditanam baik di lahan kering subur maupun lahan kering podsolik merah kuning. Inpago 6 Varietas Inpago 6 merupakan hasil introduksi dari IRRI yang merupakan Lembaga Penelitian Padi Internasional yang berbasis Filipina. Rata-rata hasil varietas ini di lahan kering 3,9 ton/ha dengan tekstur nasi yang pulen. Varietas Inpago 6 dapat dipanen pada umur 113 hari. Selain tahan terhadap beberapa ras penyakit blas, varietas ini juga agak toleran terhadap keracunan aluminium yang merupakan masalah utama di pertanaman padi gogo di lahan kering masam. Inpago 8 Varietas Inpago 8 dilepas tahun 2011 dan merupakan hasil persilangan antara varietas padi gogo Cirata dengan galur TB177. Inpago 8 memiliki potensi hasil yang cukup tinggi yakni mencapai 8,1 ton/ha, dengan rata-rata hasil 5,2 ton/ha. Umur panen varietas ini adalah 119 hari. Inpago 8 memiliki rasa nasi yang enak dengan tekstur nasi pulen. Keunggulan lain dari varietas ini adalah tahan terhadap beberapa ras penyakit blas, toleran terhadap kekeringan, dan agak toleran terhadap keracunan aluminium. Varietas ini baik ditanam di lahan kering dataran rendah sampai dataran menengah, baik lahan kering subur maupun lahan kering masam. Inpago 9 Varietas Inpago 9 memiliki rata-rata hasil 5,2 ton/ha dan dapat dipanen pada umur 109 hari. Tekstur nasi tergolong sedang dengan kadar amilosa sekitar 22%. Selain memiliki ketahanan yang baik terhadap penyakit blas, varietas ini juga agak tahan terhadap hama wereng coklat biotipe 1 dan penyakit hawar daun bakteri patotipe III. Inpago 10 Rata-rata hasil varietas Inpago 10 di lahan kering sekitar 3,9 ton/ha dengan potensi hasil mencapai 7,3 ton per hektar. Varietas ini dapat dipanen pada umur 115 hari dan memiliki tekstur nasi yang sedang. Selain tahan terhadap penyakit blas, varietas ini juga agak toleran terhadap kekeringan dan keracunan aluminium. Inpago Lipigo 4 Varietas Inpago Lipigo 4 dapat dipanen pada umur 113 hari. Tekstur nasi pera dengan kadar amilosa 27,9%. Rata-rata hasil yang dapat diperoleh 4,2 ton per hektar gabah kering giling, dengan potensi mencapai 7,1 ton per hektar gabah kering giling. Varietas ini agak tahan terhadap penyakit blas ras 073, dan baik ditanam pada lahan kering randah sampai ketinggian Sumber : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2012. Perubahan Iklim dan Inovasi Teknologi Produksi Tanaman Pangan. Kementerian PertanianBMKG. 2013. Modul Perubahan Iklim: Pelatihan bagi Pelatih (TOT) Penyuluh Pertanian. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian; Email: ume_humaedah@yahoo.com