Loading...

Virus Penyebab Penyakit Padi

Virus Penyebab Penyakit Padi
Virus kerdil yang ditularkan oleh wereng batang coklat akan berhasil dikendalikan apabila petugas lapangan memberikan pemahaman yang tepat terhadap para petani atau pelaku usahatani tentang aspek-aspek yang berkaitan dengan penyakit tersebut.Petugas dan petani harus memahami bahwa penyakit padi yang disebabkan oleh virus yang ditularkan wereng batang coklat tersebut tidak dapat disembuhkan. Penyakit padi yang disebabkan oleh virus bersifat sistemik, sehingga tanaman padi yang sudah terinfeksi selain tidak akan menghasilkan, virus juga tidak akan hilang sampai tanaman tersebut dimusnahkan (mati). Singgang/tunas yang tumbuh dari sisa tanaman yang telah dipotong akan menjadi sumber inokulum bagi tanaman sehat yang tumbuh disekitarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara fisiologis pada singgang tanaman sakit yang baru tumbuh perkembangan virus akan kembali terjadi sehingga mepunyai tingkat efektivitas yang tinggi sebagai sumber inokulum serta tanaman muda yang sakit. Dengan demikian petugas harus memberikan pemahaman kepada petani bahwa tanaman sakit yang ditemukan di lapangan harus segera dimusnahkan dengan cara tanaman dibebeskan/dimasukan ke dalam tanah sehingga benar-benar mati dan tidak muncul kembali dipermukaan tanan.MonitoringKegiatan monitoring sangat penting untuk dilakukan, sebagai upaya untuk mengetahui keberadaan hama khususnya hama wereng coklat dan sumber inokulum virus. Kewaspadaan terhadap akan datangnya penyakit virus tersebut harus dimulai terutama sejak ditemukannya wereng migran generasi 0 (G0). Munculnya wereng G0 atau paling lambat pada generasi pertama (G1) harus segera dilakukan pengendalian, terlebih lagi apabila ditemukan adanya sumber inokulum. Virus kerdil hampa dan kerdil rumput bersifat persisten, artinya bahwa wereng yang telah mengisap pada tanaman sakit akan selalu dapat menularkann pada tanaman sehat selama hidupnya, apalagi untuk wereng coklat bersayap (markroptera) yang selalu bergerak aktif dari satu tanaman ke tanaman lainnya. Pertanaman yang tidak serempak dalam satu areal hamparan yang sama akan menyebabkan keberadaan wereng coklat maupun penyakit virus akan selalu ada. Demikian halnya dengan keberadaan beberapa gulma yang juga dapat menjadi inang alternatif bagi wereng coklat maupun virus yang ditularkannya, terutama dari jenis rumput-rumputan (Gramineae) dan teki-tekian (Cyperaceae). Apabila hal demikian, maka sanitasi lahan sebelum tanam perlu dilakukan selain terhadap sisa-sisa tanaman padi sebelumnya juga terhadap gulma-gulma tersebut.Pemicu Penyebaran dan Perkembangan VirusVirus akan selalu ada dan berkembang dan semakin sulit untuk dikendalikan karena ada beberapa kesalahan yang sring dilakukan petani dan berulang-ulang. Penanaman padi yang tidak serempak dalam satu hamparan adalah satu kesalahan yang paling banayak terjadi. Hal ini terjadi terutama di daerah-daerah dengan air irigasi selalu tersedia. Keadaan demikian memicu penanaman padi yang tidak serempak, bahkan terus menerus tanpa jeda dan tanpa rotasi dengan tanaman lain, sehingga keberadaan hama terutama wereng coklat dan penyakit virus yang ditularkannya selalu ada dan berkembang. Selain itu banyak pula dilakukan pembuatan persemaian padi di tempat sumber inokulum berada. Kebanyak petani membuat persemaian ketika pertanaman padi masih stadia pemasakan, yaitu petani sudah mengambil sebagian lahannya untuk persemaian/pembibitan. Hal ini tanpa melihat kondisi pertanaman sebelumnya. Apabila kondisi tanaman sebelumnya terserang wereng coklat bahkan dengan populasi tinggi dan adanya sumber inokulum virus yang juga tinggi, petani tetap melakukan pembibitan dengan cara tersebut. Bahkan tidak sedikit petani memperjual-belikan bibit dari hasil cara pembibitan tersebut, sehingga penyebaran wereng coklat dan penyakit virus semakin meluas dengan cepat. Banyak pula petani yang membiarkan tanaman sakitnya dan enggan melakukan eradikasi/pemusnahan meskipun kondisi serangan sudah sangat parah. Bahkan banyak ditemukan tanaman yang sudah jelas-jelas terserang virus dilakukan pemupukan kembali dengan harapan akan menghijau kembali dan berproduksi baik. Petani enggan mengeradikasi tanaman yang terinfeksi adaqlah karena memerlukan biaaya dan tenaga yang dianggap sia-sia. Padahal dengan mebiarkan tanaman yang sudah sakit parah tersebut sama artinya menyediakan sumber inokulum bagi pertanaman padi disekitarnya termasuk pertanaman berikutnya.Seringkali juga petani menggunakan insektisida yang tidak tepat, padahal tidak semua insektisida cocok untuk pengendalian wereng coklat, bahkan beberapa bahan aktif insektisida dapat menyebabkan terjadinya resistensi ataupun resurjensi. Aplikasi insektisida sering terjadi tidak tepat sasaran dengan cara menyemprotkan pada bagian atas tajuk pertanaman, padahal wereng coklat posisinya berada pada batang tanaman padi.Ruslia AtmajaSumber : BB-Padi Badanlitbang Pertanian