Loading...

Wereng hijau: Satu lagi fenomena dampak global warming...

Wereng hijau: Satu lagi fenomena dampak global warming...
Dampak dari global warming akhir-akhir ini telah banyak dilaporkan, salah satu diantaranya adalah terjadi pergeseran pola musim antara musim hujan dan musim kemarau yang kini sulit diprediksi. Berdasarkan kearifan kuno, pranata mangsa di Jawa, Palontara di Sulawesi Selatan, merupakan pengetahuan mengenai urut-urutan musim tanam padi yang saat tidak sesuai lagi. Perubahan lingkungan yang diindikasikan dengan suhu yang cenderung meningkat, oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dilaporkan bahwa antara tahun 1750 dan 2005 konsentrasi karbon dioksida (CO2) di atmosfer meningkat dari sekitar 280 ppm (parts per million) menjadi 379 ppm per tahun, sejak itu kecepatan peningkatan beranjak terus sebesar 1,9 ppm per tahun. Akibat peningkatan CO2 ini, IPCC merupakan badan dunia yang bertugas dalam memonitoring fenomena pemanasan global memprediksikan pada tahun 2100 nanti suhu global dapat naik antara 1,8 hingga 2,9 derajat. Analisa terhadap peningkatan suhu ini juga dipelajari di lokasi Kebun Percobaan (KP) Loka Penelitian Penyakit Tungro (Lolittungro), Lanrang, Sulawesi Selatan pada satu dekade (2001-2010) lalu. Hasilnya, kondisi yang sama seperti yang diungkap oleh IPCC bahwa ada kecenderungan kenaikan suhu harian rata-rata sebesar 0,4 derajat Celcius. Kecenderungan kenaikan suhu ini, coba dikaji lanjut pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan arthropoda di lokasi tersebut. Mengambil contoh salah satu jenis arthropoda yang ada, yaitu wereng Hijau (Nephotettix virescens). Wereng hijau merupakan salah satu hama penting tanaman padi karena merupakan vektor penular virus penyebab penyakit tungro yang dapat mengakibatkan kerugian cukup berarti secara ekonomis, bahkan menyebabkan gagal panen. Karakter unik antara serangga wereng hijau dengan virus tungro telah mendapat perhatian khusus, dikarenakan interaksinya yang bersifat laten. Kejadian tungro selalu ada, meski gejala tidak nampak secara visual seperti gejala pada umumnya daun menguning. Sifat pemencaran wereng hijau dewasa yang tinggi, mengakibatkan kejadian tungro dapat menyebar cepat meski dengan populasi yang rendah. Keberadaan populasi wereng hijau ini, oleh peneliti di Lolittungro dimonitoring secara berkala. Tidak hanya keberadaan wereng hijau saja yang dimonitoring, namun juga termasuk arthropoda lain baik yang berperan sebagai musuh alami, maupun hama lainnya. Sepanjang tahun 2013, dilaporkan bahwa wereng hijau memiliki pola kurva fluktuasi populasi dengan 2 puncak kepadatan populasi (gambar 1) yang terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret dan akhir Juli hingga awal Agustus. Hal ini diikuti pula oleh munculnya gejala tungro di lapangan pada akhir Februari hingga akhir april dan akhir Juli hingga akhir oktober. Artinya, pada pola tanam tidak serempak atau tanaman sepanjang tahun, dampak gejala tungro yang muncul memiliki efek yang panjang. Dari sepanjang tahun, tanaman yang bergejala terjadi selama hampir 7 bulan dengan tingkat keparahan bervariasi antara 1 - 74%. Keparahan diatas 50% terjadi pada tanaman yang di tanam pada bulan Agustus dan September. Pola kurva fluktuasi populasi ini dibahas lebih lanjut. Dibandingkan dengan pola kurva fluktuasi populasi wereng hijau yang pernah dilaporkan pada musim kemarau 2002/2003 dan musim hujan 2003, bahwa terjadi pergeseran pola puncak kepadatan populasi. Pada 2003, puncak kepadatan populasi terjadi pada awal februari dan akhir agustus. Sedangkan tahun 2013, terjadi pada awal februari dan akhir juli. Fenomena pergeseran ini, menjadi informasi penting sebagai sistem peringatan atau warning system dalam mempertimbangkan penentuan waktu tanam pada periode tanam ke depan, sekaligus sebagai informasi dasar dalam rangka pengembangan teknologi pengendalian tungro berbasis lingkungan (eko-biologi). Banyak manfaat yang dapat diambil dari informasi pola fluktuasi populasi ini. Secara langsung terhadap budidaya diantaranya, menjadi dasar penetapan waktu tanam sehingga terhindar dari cekaman serangan hama dan penyakit; persiapan alternatif dalam tindakan preventif/pencegahan dan cara budidaya yang tepat. Sebagai informasi dasar dalam pengembangan teknologi pengendalian tungro diantaranya, penentuan waktu tanam saat cekaman dalam pengujian ketahanan galur terhadap penyakit tungro, dan pengembangan teknologi pengendalian dalam rangka pengelolaan ekosistem pada perubahan iklim. Penulis : Admin (RAP) Sumber : Loka Penelitian Penyakit Tungro (http://pangan.litbang.deptan.go.id/berita-500-wereng-hijau-satu-lagi-fenomena-dampak-global-warming.html