Minyak atsiri, atau dikenal juga sebagai minyak eterik (aetheric oil), minyak esensial (essential oil), minyak terbang (volatile oil), serta minyak aromatik (aromatic oil), adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Minyak atsiri merupakan bahan dasar dari wangi-wangian atau minyak gosok (untuk pengobatan) alami. Di dalam perdagangan, hasil sulingan (distilasi) minyak atsiri dikenal sebagai bibit minyak wangi. Minyak esensial atau minyak atsiri diekstraksi dari bunga, kulit kayu, batang, daun, akar, buah-buahan, dan bagian tanaman lainnya dengan berbagai cara. Minyak atsiri atau minyak esensial merupakan bahan dasar untuk membuat aromaterapi. Aromanya yang menenangkan, membuatnya sangat populer. Apalagi, minyak esensial memiliki banyak aroma, seperti lavender, peppermint, mawar, dan tea tree. Selain berfungsi untuk mengharumkan ruangan dan sebagai aromaterapi, minyak atsiri juga mempunyai beberapa manfaat lain yaitu sebagai bahan dasar produk perawatan tubuh dan rambut, bahan produk kecantikan, mengatasi gangguan tidur atau imsomnia, minyak pijat dan terapi, obat masuk angin, mengatasi stres dan depresi, mengurangi inflamasi/ peradangan, dan meningkatkan daya ingat. Dengan adanya manfaat yang begitu banyak dari minyak atsiri, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berharap agar suatu saat nanti ada daerah di Kabupaten Bojonegoro yang bisa memproduksi minyak atsiri sendiri. Mengingat saat ini sudah ada beberapa kecamatan di Kab. Bojonegoro yang telah mengembangkan beberapa tanaman yang bisa menghasilkan minyak atsiri yaitu Kecamatan Margomulyo, Kecamatan Kalitidu dan Kecamatan Kepohbaru dengan tanaman mawar serta Kecamatan Sekar dengan tanaman krisan. Menindaklanjuti hal tersebut, maka pada tanggal 5 Juli 2022 Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro melalui Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan melaksanakan kegiatan Workshop ke Rumah Atsiri Indonesia, Kab. Karanganyar. Rumah Atsiri Indonesia merupakan kawasan edu rekreasi terkait aromatik wellness dan minyak atsiri. Kawasan wisata ini merupakan wisata terintegrasi dengan tanaman aromatik, fasilitas laboratorium/ penelitian, rumah produksi, pusat pelatihan, museum, restoran, toko dan butik, maupun fasilitas MICE (meeting, incentives, conferences, and exhibitions). Workshop diikuti oleh 20 orang petani perwakilan dari Kec. Margomulyo, Kec. Kalitidu, Kec. Kepohbaru dan Kec. Sekar, serta 10 orang perwakilan penyuluh pertanian kecamatan dan kabupaten. Kegiatan workshop juga diikuti oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kab. Bojonegoro, Ibu Helmy Elisabeth dan Bupati Bojonegoro, Ibu Hj. Anna Mu’awanah secara virtual melalui zoom meeting. Agenda kegiatan workshop diawali dengan laporan pelaksanaan kegiatan oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kab. Bojonegoro kepada Ibu Bupati Bojonegoro. Acara selanjutnya sambutan dari Rumah Atsiri Indonesia dan dilanjutkan dengan kegiatan workshop oleh tenaga ahli dari Rumah Atsiri Indonesia. Pada kesempatan ini para peserta mendapatkan materi tentang pengenalan tanaman atsiri, pengenalan minyak atsiri, penyulingan/distilasi dan experience essence. Selanjutnya seluruh peserta dibagi menjadi 2 kelompok untuk praktek aplikasi produk minyak atsiri yaitu kelompok pembuatan solid perfume dan kelompok pembuatan hand soap. Sebelum praktek, seluruh peserta diajak mengelilingi area Rumah Atsiri dengan didampingi oleh tenaga ahli Rumah Atsiri. Seluruh peserta diajak untuk melihat secara langsung berbagai tanaman penghasil minyak atsiri yang ada di Rumah Atsiri, proses pengolahan sampai dengan proses pemasaran hasil produk minyak atsiri. Setelah itu seluruh peserta yang sudah terbagi menjadi 2 kelompok diajak untuk praktek secara langsung pembuatan solid perfume dan hand soap. Hasil praktek bisa dibawa pulang oleh seluruh peserta. Pada akhir kegiatan, pihak Rumah Atsiri menyampaikan bahwa besar harapannya agar suatu saat nanti di Kabupaten Bojonegoro bisa terwujud kawasan penghasil minyak atsiri. (oleh : Dwi Ratnaningdiyah, SP., Penyuluh Pertanian Kabupaten Bojonegoro)